Senin, 20 Desember 2010

Cinta pertama

<
        Aku membuka amplop coklat yang tergeletak diatas meja kerjaku sambil menatap pemandangan laut melalui jendela kantorku yang seluruhnya dari kaca bening.Itu adalah surat perintah jalan yang sudah tergeletak 2 minggu diatas mejaku yang berantakkan.Terkadang ketika aku mengejar tengat waktu,aku sampai lupa keadaan sekitarku.Aku tadi baru menyelesaikan sejumlah persentasi tentang pertumbuhan penanaman modal yang buat aku berdiri 3 jam untuk meyakinan para investor Korea yang menurut bosku punya minat besar terhadap pasar di Indonesia.Dalam hati aku bertanya – Tanya apakah mereka punya minat besar seperti kata bosku?Soalnya dari awal samapi akhir aku diserang dengan pertanyaan tentang jaminan pemerintah terhadap keamanan dan stabilitas politik yang tidak stabil akhir-akhir ini di Indonesia.Kalau menurutku yang namanya investasi selalu ada peluang gagal dan suksesnya yang penting tetap berusaha dan berdoa,kalau Tuhan berkehendak untuk sukses pasti sukses kalau gagal berararti kita harus koreksi dimana letak kesalahan sehingga kita pada akhirnya bias sukses juga.Tapi para investor itu tidak mungkin mau menerima konsep pemikiranku yang seperti itu,tidak ada kata gagal dalam kamus bisnis mereka.Bisa-bisa aku malah dianggap tidak professional lagi dimata mereka dan ujung-ujung bias mempengaruhi reputasi Indonesia dimata investor asing serta aku bias buat kumat darah tinggi bosku.Kemungkinan yang terakhir itulah yang terburuk bagiku,karena aku bias dipecat dan statusku akan berubah dari orang kantoran menjadi pengangguran.Ahhhh…tidak itu tidak boleh terjadi padaku dank arena aku tuch orangnya baik hati,tidak sombong,rajin menabung(Ah,apa sich hubunganya?) dan lain sebagainya.Intinya adalah aku memberikan jawaban yang diplomatis jauh dari konsep pemikiran spritualku dan konsep ekonomi yang sudah mendarah daging dalam jiwa dan ragaku.Mendarah daging?Itu lebai banget kedengarannya,yach well,aku sudah belajar ekonomi selama 4 tahun dan semua pelajaran itu teringat dengan baik tapi itu tidak pernah membuatku lebih baik dari seorang Miranda Gultom maupun Sri Mulyani.Yach,apalah artinya diriku yang baru lulus 2 tahun gitu lho…Akhirnya berakhir dengan bahagia,kami mendapatkan kontrak tersebut dan proses penandatangannya tidak kurang dari setengah jam saja.Ironis banget untuk berjuang dapat kontrak butuh 3 jam dan aku menikmati momen kemenanganku tidak lebih dari setengah jam.Tapi yang paling menghebohkan adalah saat aku kembali ke kantor disambut dengan pelukan,tepuk tangan,dan langsung ditraktir makan teman-teman sekantorku dan aku makan di salah satu restoran termewah di Jakarta.Itulah hal menyenangkan yang selalu membuatku betah di kantor ini.
                                                                                  ***
Entahlah aku tak tahu harus senang atau bahagia ketika mengetahui isi surat perintah jalan.Aku Cecilia Handayani Putri,seorang statistic yang dibayar 500 ribu perjam oleh para klienku,diminta oleh bosnya untuk jadi konsultan manajemen dan keuangan di salah satu sekolah kedinasnasan dibawah naungan Depertemen Perhubungan RI dan aku hanya 1 juta setiap bulan saja selama 1 tahun.Itu artinya aku akan ada di sekolah itu untuk melakukan penelitian dan menganilsa permasalahan serta mencari jalan keluar untuk sekolah tersebut.Aku benci jika harus lama-lama mengerjakan hal yang sama secara terus menerus.Tidak aku tidak akan pernah mau melakukan hal ini.Aku harus bicara pada bosku,dia tidak bias melakukan hal ini padaku.Selama ini aku sudah melakukan yang etrbaik untuk kantor ini,semua hal berat yang tidak mau dikerjakan oleh teman-temanku selalu dilimpahkan kepadaku,dan aku mengerjakan semunya dengan senang hati dan selalu sukses.Bosku tidak punya alas an untuk memaksaku melakukan hal yang aku tidak suka dan dia harus mau mengabulkan permintaanku yang pertama ini dan mngkin adalah yang terakhir.
Aku duduk dengan sedikit gelisah di sofa empuk yang berlapiskan beludru putih yang sangat lembut di lobi kantor kami.Dian,sekertaris bosku yang tampak cantik menghampiriku menawarkanku minum tapi aku menolaknya.Aku tidak bias memikirkan hal lain jika keinginanku belum terwujud.
“Apakah mereka akan lama rapatnya?” tanyaku tanpa menyembunyikan kegelisahanku.
“Mungkin 3 jam lagi,”jawabnya sambil melirik jam tangan.Oh,Tuhan tolong aku…Kenapa semua jadi begini sulit.Berikan aku kesabaran,Tuhan.Aku bisa gila jika harus menunggu,aku lebih memilih mati dari pada harus menunggu.Tapi sekarang aku tidak punya pilihan lain selain menunggu bosku tercinta disini.Dian kembali ke mejanya untuk melanjutkan pekerjaannya dan sesekali melempar joke ringan untuk mengurangi kesuntukkanku untuk menunggu bos kami.
Akhirnya 3 jam yang sersa 3 abad berakhir juga setelah daun pintu kantor bosku terbuka menandakan rapat sudah usai yang berarti penderitaanku menunggu bosku sudah berakhir.Bosku mengantar tamu-tamu pentingnya samapi di lift dan segera kembali menyapaku.
“Lia,ayo masuk ke ruangan bapak”ajaknya dengan santai tanpa memperdulikan raut wajahku.Lia adalah nama panggilanku dan bosku ini biasanya kami sapa dengan panggilan Pak Marcel.Aku melangkah mengikutinya tanpa mengucap sepatah kata pun.Kurasa wajahku sudah cukup menjelaskan kira-kira persoalan apa yang mungkin akan kubicarakan dengannya.
“Ada apa,Lia?Kenapa kamu cemberut?”akhirnya bosku yang membuka percakapan yang langsung pada inti permasalahan sehingga aku tidak perlu repot-repot untuk memikirkan bagaimana memulai percakapan ini tanpa nyasar kemana-mana.
“Pak,aku sudah membaca surat perintah jalan.Aku senang bapak mempercayakan tanggung jawab ini padaku tapi aku minta maaf sebelumnya,aku tidak bisa mengambil pekerjaan ini,”akhirnya aku bisa menyampaikan semua isi hatiku,sekarang persaanku menjadi lebih lega.Yach,ini adalah keputusanku apapun kosekuensinya aku akan tanggung.Bosku memperbaiki letak kacamatanya,sekilas ada keterkejutan yang berpijar dimatanya.Pria paruh bayah di hadapanku termenung sejenak tampak mempertimbangkan sesuatu.Apapun keputusannya aku tetap bilang tidak,aku punya cukup alasan yang logis untuk membuat bosku mengabulkan permintaanku.
“Kenapa kau tidak mau mengerjakan tugas ini padahal biasanya kau selalu mau mengerjakan semua yang diberikan?Ada masalah apa?”Itu pertanyaan yang sudah kuduga dari awal dan punya alasan bagus yang sudah kususun selama 3 jam tadi. Aku menghela nafas panjang memulai perdebatan panjang dengan bosku tercinta.
“Sebenarnya tidak ada masalah apa-apa.Selama ini aku mengerjakan tugas-tugas yang berat dan selalu sukses. Aku mengurus berbagai masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh rekan-rekanku,bisakah masalah yang mudah ini diurus oleh rekan kerjaku yang lain saja?Atau diurus oleh para pegawai magang untuk menambah pengalaman mereka,”jawabku tenang dan berusaha untuk tidak kehilangan kesabaran karena masalah ini akan bercabang kemana-mana.
“Lia,ini kontrak yang luar biasa.Memang ada banyak rekan kerjamu yang bisa mengerjakan tugas ini tapi aku menugaskanmu dalam hal ini karena aku tahu kau akan melakukan semua yang terbaik apapun tantangannya,bisakah kau memahami hal itu?”bosku tampak berjuang keras menyembunyikan raut mukannya yang sudah tidak sabaran.Tampaknya dia ini cepat-cepat mengakhiri perdebatan ini. Oh,jangan sebut namaku Cecilia Handayani Putri jika aku tidak membuatmu lolos dengan susah payah.Peluangku untuk menang tampak tipis tapi aku tidak akan menyerah dengan mudah saja.
“Kontrak yang luar biasa?Selama 2 tahun aku bekerja disini,aku selalu dibayar 500 ribu perjam hanya untuk konsultasi belum untuk mengambil tindakan untuk menyelesaikan berbagai persoalan keuangan untuk menyelamatkan perusahaan.Tapi mereka hanya membayarku 1 juta perbulan selama 1tahun masa kontrak,dimana letak luar biasanya kontrak ini?”aku balik menatang bosku lagi.Tentu hal ini benar-benar sangat merendahkan kemampuanku sebagai konsultan keuangan.Bosku terdiam sejenak seolah kehilangan kata-kata untuk mematahkan argumentasiku.Lagi pula ini argument yang masuk akal,bukan?Mengapa seorang konsultan keuangan yang sudah memiliki jam terbang tinggi didalam maupun diluar negeri harus mengurus kontrak-kontrak yang seharusnya menjadi tanggung jawab pegawai magang.
“Lia,memang dari sisi keuangan kontark ini kurang menjanjikan tapi bukan itu tujuanmu bekerja sampai sejauh ini,bapak percaya akan hal itu. Ini adalah bentuk pengabdian karena selam ini 4 tahun Negara membiayaimu,sebagai ungkapan syukur kau bisa ada sampai sejauh ini.Kontrak ini memang luar biasa karena disinilah tonggak sejarah kantor ini pertama kali memulai membangun layalitas dan membentuk reputasi lain.Bapak,tidak mau orang lain yang tidak punya cukup integritas menangani kontrak ini.Kontrak ini secara keuangan tidak menjanjikan tapi sangat berdamapak dalam memperkenalkan instansi kita di masyarakat.Bapak rasa kau adalah orang yang tepat untuk mengurus kontrak ini,”jelasnya panjang lebar.Kini aku menjadi serba salah antara menerima karena tidak tega menghancurkan pengharapan boskuyang telah mempercayakan tugas ini padaku atau mengikuti kata hatiku yang mengatakan bahwa aku harus mengerjakan tugas yang sesuai dengan kemampuan yang telah dideskripsikan oleh kesuksesan-kesuksesanku selama 2 tahun.Pilihan pertama berarti aku punya solidaritas terhadap orang lain sedangkan pilihan kedua berarti aku adalah orang yang paling egois.Solidaritas atau egois,mana yang harus kupilih?
“Nak,bisakah kau pahami maksud bapak?”bosku tampak mengiba sambil sesekali membetulkan letak kacamatanya dengan gelisah.Bosku adalah pria setengah abad yang sudah ubanan rambutnya.Aku sangat menghormatinya meskipun kami sering berbeda pendapat tapi dialah orang yang telah mengajarkanku banyak hal sampai aku bisa seperti ini sekarang. Aku sanagt menhormatinya karena sikapnya sanagat mirip sikap mendiang ayah yang menangani kelakuanku yang selalu menolak perintah.
“Tapi tempatnya sangat jauh sekali dari Jakarta,Pak,”aku buat lagi alasan.Ini adalah alasan terakhirku sekarang.Alasan ini adalah alasan penentu aku gagal atau berhasil.Bosku tersenyum sambil memainkan gelas air putih yang ada didepannya.Sepertinya aku kalah dan itu adalah senyum kemenangan dari bosku.
“Jangan khawatir kau selam setahun akan tinggal disana.Mereka sudah menyiapkan segalahnya untuk membuatmu nyaman disana.Kau pasti akan senang bekeja bersama mereka,”ujar bosku kalem.Aku langsung menyudahi pembicaraan kami dan kembali ke ruanganku.

                                                                ***
Aku masih tak percaya bahwa aku sudah gagal. Bosku ini memang seorang manipulator sejati.Dia tahu bagaimana membuatku untuk tidak membantah perintahnya.Aku menatap pemandangan di hadapanku yang mungkin bakal jarang akan kulihat lagi.Ombak yang berkejaran menuju bibir pantai kemudian membuih seperti air deterjen. Aku hanya menghela nafas menanggapi kekalahanku,inilah akibatnya terlalau pede sampai memiliki harapan yang terlalu sehingga ketika harapanku tidak sesuai dengan kenyataan terasa sakit banget di hati.
Kurapikan meja kerjaku dan mematikan computer yang sudah stand by dari 3 jam yang lalu.Aku membetulkan bingkai foto keluaga kami yang sering kupandangi ketika aku sedang suntuk dengan pekerjaanku yang tidak berujung. Ada aku,mbak Rani dan mas Deny yang sedang tersenyum bahagiah dengan latar belakang pohon natal.Foto itu diambil 5 tahun yang lalu,ketika mas Deny masih jadi taruna di STP dan aku masih jadi mahasiswa tingkat 2 di STIS.Mbak Rani mengenakan baju dinasnya tampak bahagia sekali.Kami mengenakan seragam masing-masing instansi.Mama dan papa tidak tinggal di Jakarta karena papa harus menuaikan tugas sebagai pegawai negeri BMG di Jayapura.Kehidupan ekonomi keluarga kami sangat pas-passan sekali memaksa kami untuk belajar baik-baik untuk memperoleh beasiswa ke PT tapi Tuhan menempatkan kami bertiga di sekolah kedinasan di Jakarta.Masa-masa perkuliahan memang adalah masa yang sangat sulit sekali,kami harus berjuang mati-matian lolos dari ancaman DO.Tapi puji Tuhan kami melewati semua itu dengan baik sehingga akhirnya kami masing-masing memiliki karir yang baik. Aku memasukkan surat perintah dan laptopku kedalam tasku.Aku melangkah menuju pintu dan berbalik sejenak menatap ruanganku yang akan kutinggalkan selama 1 tahun.
Dalam lift sambil menunggu aku merogoh BB dari saku rok.Aku mulai menelpon mbak Rani untuk mendengar deskripsi awal tentang STPI setidaknya aku punya gambaran tentang sekolah kedinasan yang satu ini.
“Hallo,Lia.Ada apa?Apakah kau mau traktir aku makan siang?Aku akan kesana yach…”sungguh dech mbakku ini tahu nggak gimana caranya menyapa orang di telepon,mentang-mentang aku adiknya semua penerapan etika dalam bertelepon jadi dilupakan.Sudahlah lupakan saja tentang etika telepon itu pokoknya intinya adalah aku harus menyampaikan isi hatiku.Sabar Lia jangan terbawa emosi ntar malah jadi runyam dech,urusannya.
“Iya,mbak,aku mau ajak mbak makan siang tapi dikantin mbak aja yach?Ada yang mau kubicarakan tentang proyek terbaruku…”jawabku singkat.Dia hanya ber-ooh ria disana menanggapi jawabanku.Bukan mbak Rani klau dy tidak menitip berbagai macam barang tanpa menayakan kemana aku akan pergi dalam rangka urusan proyek baru.Sebelum aku menjelaskan penempatan proyek baruku telepon sudah putus. Akhirnya aku menuju parkiran mengambil mobilku dan menuju area Monas yang makan waktu 2 jam lebih padahal jarak pasar baru dengan monas tidak jauh-jauh banget lho.Tingkat kemacetan di Jakarta benar-benar parah banget.
Sedan putihku melewati area wajib lapor dengan mulus menuju halaman parker di depan kantor Perhubungan yang tampak rapi.Sesaat mataku menangkap sosok yang tak asing buatku tapi aku lupa siapa dia.Tapi hatiku bilang kalau aku mengenalnya. Ia meninggalkan loby kantor dengan buru-buru dan meninggalkan halaman kantor dengan mobilnya yang diparkir tidak jauh dari mobilku.Entahlah lupakan saja,aku dating kesini untuk bertemu mbak Rani.Siapapun dia,aku tidak peduli yang penting sekarang adalah tujuanku dating kemari dengan susah payah.
Aku duduk di kantin tersebut sambil membaca menu makan yang terpampang di setiap Stand.Membaca makanannya sudah membuat perutku kerocongan sekali.Duh,dimana sich mbakku? Aku tadi pagi belum makan dan tadi berdebat dengan bosku sudah menguras tenagaku,lengkap sudah penderitaanku,erangku dalam hati. Setelah setengah jam akhirnya dia dating juga.
“Lia,kau tunggunya lama yach?Maaf yach,tadi masih ada meeting sich…”katanya memberia alasan karena aku udah cemberut.
“Aku mau pesan sop iga,nasi,plus es teh manis,”kataku spontan tanpa memperdulikan alasan keterlambatanku.Mbakku langsung memanggil pelayan dan mencatat pesana kami yang sama. Perutku tampak tidak sabaran  sekali sehingga mengeluarkan bunyi-bunyian yang tak sedap didengar.
“Jadi,bagaimana proyek barumu?Pasti luar biasa”mbakku tampak sabaran mendengar cerita proyekku seperti halnya perutku yang tidak sabaran menunggu untuk segera diisi makanan.Aku hanya menghela nafas,”Begitulah,”.Aku perlu makan dan minum untuk menjernihkan pikiranku.Lima belas menit aku makan kayak orang kelaparan yang tidak makan berhari-hari sehingga tak ada satu katapun yang lolos dari mulutku.Mbakku hanya melotot menanggapi gaya makanku yang membuat semua mata memandang kearah kami,aku tak peduli dengan segalah macam etika jika sudah kelaparan kayak gini.
“Semua orang di kantor menganggap ini adalah proyek yang istimewa tapi bagiku adalah sebuah proyek yang seharusnya dikerjakan pegawai magang bukan seseorang yang sudah memiliki pengalaman kerja dengan jam terbang terbanyak sepertiku,”omelku setelah menekuk kuah sop langsung dari manggkoknya.
“Aku tidak bisa membawa titipan apapun untukmu.Karena aku tidak ditugaskan jauh dari kota Jakarta hanya di Tangerang.Aku akan melakukan riset di almatermu untuk manajemen dan keuangan,”kataku pelan banget tampak ada keterkejutannya disana lebih tepatnya adalah tidak percaya dengan apa yang baru dia dengar.Ia membetulkan letak kacamata yang bertengker di hidungnya,”STPI,apakah masalahnya separah itu?Sampai mereka harus menyewa seorang kosultan mahal untuk membereskan masalah keuangan disana,”.Tampaknya dia sudah mau membuka kartu sendiri berarti tugas selanjutnya adalah dengan pelan kubuka mulutnya untuk mengorek informasi tentang sekolah itu.Dan semoga dia tak menyadari apa yang baru dia ucapkan.
“Jadi,apa masalahnya sebenarnya?Aku tidak suka buang –buang waktu untuk urusan seperti ini makanya aku ada disini,”ini adalah inti persoalannya.Aku menarik tissue dari kotak tissue dan melap bibirku.Mbakku hanya diam memikirkan kata-kata untuk menjelaskan masalah ini. Aku rasa aku sedang berhadapan dengan orang tepat.
“Dalam SPJ-ku Cuma dibilang tentang masalah keuangan dan manajemen.Sebagai seorang peneliti informasi semacam itu tidak cukup membantuku.Aku perlu sudut pandang lain untuk memahami detail masalah ini,aku perlu pendapat seseorang yang professional dalam bidang ini tapi dia harus independent.Dan aku rasa kau orang tepat,”sambungku dengan nada professional,sepertinya raut wajah cantiknya yang putih merona pink disana.Aku tahu,aku telah menohoknya tepat di ulu hatinya tapi sekalipun dia kakakku itu tidak mengubah kenyataan bahwa kami harus bicara secara professional.Karena kami sama-sama punya kepentingan dalam persoalan ini.Kakak sebagai orang bertanggung jawab dalam penggunaan alat-alat praktek yang akan digunakan para taruna tentu dia ingin jaminan keselamatan untuk mendongkrak reputasi STPI yang terus merosot setelah dia lulus dari sana.Tepatnya ada perasaan berhutang secara moral terhadap kampus yang telah membesarkan namanya dan membawanya melanggang buana ke mancanegara.Dan aku tidak suka membuang-buang waktuku untuk mengerjakan tugas yang seharusnya dikerjakan pegawai magang dikantorku,itu namanya meremehkan kemampuanku dan secara keuangan proyek ini sangat tidak menjanjikan sekali berbeda saat aku menagani klienku di kantor.Semua alasanku diatas ternyata tidak mampu membawaku mendapatkan apa yang kuinginkan karena aku tidak mau mengecewakan bosku tercinta dan ini adalah perintah bosku yang mau tidak,suka tidak suka aku harus mau dan harus bisa mencapai target yang diingikan bosku.Aku seorang gadis metropolitan Jakarta harus tinggal di salah satu tempat yang dikatogorikan sebagai desa walaupun Karawaci Mall dan SPH yang keren banget itu tak mampu untuk mengubah Tangerang secara keseluruhan menjadi kota modern karena disetiap detail kota tersebut kamu bakalan ketemu ayam,kambing bahkan sapi yang diternakan tak lupa tambak ikan dan belum tentu disetiap sudut kota itu kamu bisa menemukan warnet,mesin fotokopi,counter pulsa segampang kamu temukan ketika kamu tinggal di Jakarta.
“Yach,setelah aku lulus dari sana semua memang berubah secara total.Tapi bukankah perubahan tersebut memang penting?Walaupun memang tidak semua perubahan tersebut akan membawa kita kearah yang positif.Ada beberapa subsidi yang dulu ditanggung oleh pemerintah kini sudah tidak lagi.Sekolah itu tampak belum mampu untuk berdiri sendiri masih butuh waktu yang lama untuk mempersiapkan segalahnya.Setelah tidak ada subsidi sekolah tersebut berjuang menutupi anggaran penyelenggaraan kuliah yang defsit dengan berbagai cara.Memang para taruna yang dibebankan biaya sebesar 5 sampai 10 juta tapi ternyata itu tidak menjawab persoalan.Mereka melakukan berbagai cara diluar idealisme yang biasanya mereka pegang teguh selama ini,inilah akibatnya sekarang.Tapi mereka juga menghadapi pilihan yang sulit jika mereka tidak membuang idealism sekolah tersebut tidaka akan bisa menyelenggarakan perkuliahan,kau bisa bayangkan bagaimana nasib anak dan orang tua mereka yang sudah mempercayakan masa depan kepada STPI.Atau seperti tindakan mereka sekarang membuang idealism banyak hal yang berjalan tidak semestinya karena prioritas utamanya adalah uang,akibatnya kau bisa lihat apa yang kini di hadapi STPI yaitu krisis kepercayaan dari public yang kini mulai mempertanyakan kualitas SDM yang dihasilkan setelah berbagai kasus yang akhirnya mencuat ke permukaan,”jelasnya panjang lebar membuatku ikut merasakan keprihatinan yang mendalam terhadap sekolah yang dulu pernah dibanggakan oleh masyarakat umum.Inilah alasannya kenapa aku senang ngobrol dengan kakakku,karena dia selalu mengatakan segalah hal apa adanya tanpa memojokkan pihak manapun segalahnya jadi tampak jelas duduk perkaranya jika dia yang memberi analisa.
“Oh,begitu yach…Ini memang bukan yang kuinginkan tapi aku akan melakukan semua yang terbaik yang bisa kulakukan disana,”ucapku dengan penuh tekat.Aku tidak tahu tantangan apa yang akan menghadang aku disana,tapi satu hal yang pasti kurasakan bahwa aku sangat bersemangat untuk melakukan yang terbaik. Aku mulai menyadari kenyataan bahwa ini adalah salah satu kontrak yang luar biasa karena disinilah kupertaruhkan seluruh gengsi,harga diri,egois,reputasi yang bagus bahkan seluruh kemampuan terbaikku sebagai seorang statistisi serta integritasku dalam bekerja.Namun jauh dalam hatiku aku tahu segalahnya akan berubah ketika aku siap untuk menerima tantangan kontrak ini,setidaknya ada sesuatu yang akan mengubah sisa hidupku di bumi.Aku tidak tahu apa itu,tapi percayalah aku siap 100 % untuk menghadapi kemungkianan terburuk sekalipun.
“Kenapa kau jadi mau menolong mereka?Proyek ini tidak menjanjikan apapun secara finasial untukmu?”mbakku mengingatku tentang alasan aku menolak prayek ini.Aku hanya menghela nafas panjang menanggapi pertanyaannya.Uang memang penting buatku tapi integritas untukuntuk bekerja dan melakukan semua yang baik adalah sesuatu yang jauh lebih berharga dari pada uang.
“Memang proyek ini tidak menjanjikan secara keuangan.Dan harus kuakui ini memang merendahkan kemampuanku yang sudah diakui oleh para klienku yang bertaraf internasional.Tapi aku berjuang untuk  mempelajari statistic selama 4 tahun,aku belajar banyak tentang nilai-nilai hidup yang hendak diperjuangkan oleh para pelopor ilmu ini.Uang memang penting tapi menjalani hidup yang selalu member yang terbaik adalah sebuah kehormatan yang layak diperjuangkan dengan segenap jiwa dan raga tidak peduli apapun konsekuensinya,”jelasku panjang lebar dan sepanjang aku berkata demikian aku baru sadr bahwa aku tidak berhenti untuk bernafas meskipun itu hanya sekali saja.Kakakku memandangku dengan tatapan haru dari balik kacamatanya.
                                                        ***
Aku pulang ke rumahku didaerah Pondok Bambu setelah makan siang bersama Mbak Rani di kantornya.Aku memang tinggal sendirian disini karena kakakku sudah punya rumah di Taman Ubud Tangerang dan adikku sudah punya rumah di Kebayoran.Walaupun masih lajang buat kami punya rumah berarti adalah sebuah investasi masa depan.
Rumah mungil tampak asri dengan tanaman rambat yang tumbuh subur memberikan kesan teduh pada rumah ini.Sambil menunggu si Iyem membuka pagar rumah mataku menangkap sosok yang mencurigakan berdiri memandang kearah rumah.Wajah orang itu tidak jelas tapi aku tahu pasti dia adalah seorang pria.Mengenakan jeans yang biru yang sudah pudar,topi dan jaket kulit yang terlihat sudah lusuh.Karena takut aku membunyikan klakson terus-terusan dengan tidak sabaran membuat beberapa pejalan kaki menoleh kearah mobilku.Si Iyem berlari tergesa-gesa membuka pagar dan aku langsung memasukkan mobil seperti kesetanan.
“Ada apa sich,Non?Kok ga sabaran banget sich?”tanya pembantuku dengan setengah centil dan jengkel melihat tingkah majikkannya yang aneh.
“Aku tuch takut banget…!!!”seruku gemes.Si Iyem yang malang malah sibuk berpikir sambil memutar-mutar kepanga rambutnya yang diingkat dua dikepalanya.
“Kok si Non takut?Nich kan masih siang…”jawabnya lugu banget.Aku menarik nafas panjang dan berusaha tenang agar debaran jantungku tidak terlalu berdebar dengan kuat,karena aku kahwatir jantungku bakal copot dalam 5 menit kedepan kalau dia terus berdebar kayak orang lari marathon.Aku harus memastikan bahwa aku sudah punya cukup kesabaran untuk menghadapi lemotnya si Iyem yang suka kambuh kalo hari panas kayak gini.Aku tidak ingin menjitak kepalanya karena nanti aku bisa di tuduh melakukan tindakan kekerasan terhadap pembantu didalam rumahku sendiri,itu bakalan sangat memalukkan.
“Iyem,tadi ada laki-laki yang nyeremin banget berdiri didepan dan menatap rumah ini.Kayaknya orang jahat dech…Kamu hati-hati yach,kalau sendirian di rumah.Kunci pintunya…”aku mengingatkannya.
“Hahaha…Paling-paling yang non Liat tuch Bang Abdul atau Bang Tarno atau Bang Tagor atau Bang Udin.Itu lho…The members of Iyen Fans Club’s…”duch nich pembantu dibilangin susah banget dech.Nggak dibilang aku kalau pergi jadi ga tenang tinggalin dia,dibilangin juga salah soalnya narsisnya jadi kumat dech kayak sekarang.Inilah alasan kenapa aku selalu punya keinginan untuk menjitak kepalanya.Kalaupun Bang Abdul,Bang Tarno, dan Bang Tagor,aku kenal banget sama mereka bahkan dalam jarak 1 km aku pun bisa menebak mereka.Tapi siapa orang yang tadi kulihat?Ah,sudahlah mungkin hanya perasaanku saja.
Sambil membuka lemari pakian,sebuah amplop putih terjatuh.Aku memungutnya dan menatap amplop lusuh tampak kecoklatan.Sudah 7 tahun berlalu tapi aku tetap tidak mampu untuk menyingkirkan semua kenangan tentang cinta pertamaku dan amplop ini adalah buktinya.Waktu itu aku baru 17 tahun,aku seorang siswa SMU yang biasa-biasa saja dalam hal prestasi maupun penampilan tapi ada satu cowok yang entah bagaimana dia selalu membuat jantungku berdebar dengan cepat ketika mata kami beradu pandang.Hingga akhirnya,perasaan cinta ini diketahui oleh dia dan parahnya satu sekolah pun mengetahui hal ini.Ironisnya adalah rahasia ini dibongkar oleh sahabatku sendiri tapi aku tetap tegar dan tetap berusaha menjadi sahabat yang baik meskipun hatiku seperti teriris setiap kali aku melihat wajahnya.Puji Tuhan,aku sekolah dengan baik sampai lulus di SMU itu meskipun orang yang kucintai sudah pindah saat kami naik kelas 2.Jika kau bertanya padaku,apakah aku masih mencintainya?Yach,aku masih mencintainya disetiap debaran jantungku,disetiap helaan nafasku masih kurasakan manisnya cinta itu seperti saat pertama kita saling menatap satu sama lainnya.
“Non,kok malah bengong sich?Katanya mau buru-buru…”suara cemprengnya si Iyem membuatku tersadar.”Iya…!!!”spontan aku mejewer telinganya.Kami tertawa lepas dan aku sangat senang bisa tertawa.Semua keresahan hatiku hilang lewat tawa.
“Jangan kebanyakkan bengong,Non.Ntar digelitikkin kuntilanak lho…”nasihat si Iyem,aku cuman senyum doank.Aku memasukkan baju-baju kedalam koper yang gede sambil sesekali mencentang daftar barang-barang yang mau kubawa.
“Non,jangan lupa minum obatnya…”aku hanya mengangkuk frustasi mendengar pesannya yang udah kesekian kalinya.Memang dia benar sich tapi aku capek dengarnya.
Setelah sejumlah instruksi dariku dan masih sejumlah adu debat,akhirnya aku pamitan dengan si Iyem.Dia memang pembantuku tapi buatku dia lebih dari seorang pembantu,dia adalah anggota keluarga yang menyenangkan sekali.Aku melantasi jalan depan dengan pelan karena ada anak-anak yang asyik bermain terkadang aku harus berhenti sejenak menunggu mereka memeungut permainan mereka,pria itu masih ada disana sedang menatap kearah mobilku.Aku tahu dia sedang menatapku walaupun mobil ini menggunakan kaca yang gelap tapi aku tahu dia sedang memperhatikan gerak-gerikku.Entah bagaimana,mata kami beradu menimbulkan rasa panas disekujur tubuhku entah mungkin terdorong rasa takut,gugup serta agak grogi meskipun dalam mobil  AC sedang dihidupkan dalam suhu cukup maksimal,setidaknya untuk mengusir kegerahan di saat siang menjelang sore.Seseorang berteriak mengagetkanku untuk harus jalan karena aku sudah membuat macet diikuti dengan beberapa klakson panjang yang menjengkelkan,aku langsung tancap gas meninggalkan tempat itu.Ini bukan hari keberuntunganku,aku harus tenang dan sabar membawa mobilku ditengah kepadatan jalan raya yang penuh sesak dengan segalah jenis angkutan yang sedang berlomba memasuki ruas jalan yang semakin lama terasa semakin sempit sekali.Sesekali pengemis,pedagang kaki lima serta pengamen turut ambil bagian dalam mendramtisir kemacetan lalulintas tepat di lampu merah sehingga beberapa mobil jadi tersendat jalannya termasuk mobilku yang sedang dilewati seorang pengemis tua yang berjalan dengan lambat.Dalam hati aku hanya melafalkan kata sabar berulang sambil memohon kesabaran kepada Tuhan.Syukurlah lagu-lagu David Foster dan Elton Jhon cukup mampu mendinginkan hatiku dengan lagu-lagu mereka yang romatis serta suarah mereka yang cukup mampu membuat para wanita mabuk kepayangan.Puji Tuhan,aku sudah masuk jalan tol Jakarta-Tangerang setelah 2 jam berkutat ditengah kemacetan ibukota.Aku menghela nafas lega dan memacu mobil dengan kecepatan tinggi untuk menempuh perjalanan 18 Km.Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 5 sore,matahari tampak pelan-pelan meninggalkan singasananya dan tenggelam di ufuk barat.Warna keemasannya tampak cantik sekali.Aku memang selalu suka menyaksikkan matahari terbit dan terbenam.Peristiwa alam seperti inilah yang selalu menginspirasian jutaan ide kreatif dan berbagai solusi setiap masalah.Aku mampir sebentar untuk makan dan istirahat di Taman Sari sambil menelpon staf di Curug untuk memberitahukan kedatanganku.Mereka terdengar kaget ketika mengetahui aku segera merespon surat mereka.Setelah mengkonfirmasikan rute perjalanan yang melintasi Taman Ubud menuju kampus Pramita di Binong mereka menyarankan aku untuk tetap mengikuti jalan lurus saja katanya Kampus tersebut ada didepan jalan.
Setelah melewati 15 menit aku sudah melewati Kampus Pramita di Binong dan terus melaju pelan karena ada ruas jalan yang rusak.Sekelilingku sudah gelap sekali dan aku sudah melewati pemukiman penduduk kini aku sedang melintasi jalan sepi sendirian tak ada angkot lagi serta pangkaln ojek pun sudah terlewati sekitar 500 meter,aku mulai merasakan ada yang tidak beres dengan mobilku,perlahan tapi pasti kecepatan mobilku mulai melambat dan akhirnya bener-benar terhenti total.Aku mencoba menghidupkan mesin mobil tapi tetap tidak bisa,aku sudah mencobanya berkali-kali tapi hasilnya tetap sama.Aku mengambil handphoneku dan berusaha menghubungi staf di Curug untuk minta dijemput saja.Ternyata baterai hpku sudah habis dan sama sekali tidak bisa dihidupkan lagi.Telapak tanganku mendingin dan aku benar-benar putus asa sekarang.Apa yang salah denganku?Semua hal sejak pagi aku kerjakan tidak ada yang beres.Semua dimulai ketika gagal menolak proyek pengabdian kepada bangsa dan Negara versi bosku,kakakku yang susahnya diminta informasi tentang kampusnya,pria aneh yang kutemui tadi siang,kemacetan parah selama 2 jam dan kini mobilku macet ditengah hutan dan aku ga bisa menelpon siapapun untuk minta bantuan.Aku benar-benar lelah dengan semua hal ini serasa sedang memikul beban berat.Dengan perasaan frutasi aku menyandarkan kepalaku diatas stir mobil dan berusaha berdoa dengan tenang.Yach,aku harus tenang atau aku bisa gila saat ini juga.Sudah 20 menit aku menunggu mobil lewat tapi entahlah tak ada satupun mobil yang melintas jalan ini.Oh,Tuhan,sekarang aku terdampar disini dan aku harus melakukan apa untuk keluar dari masalah ini?Apa aku sedang diarah yang salah?Nggak mungkin,mereka bilang aku hanya perlu mengikuti jalan yang lurus dan kampus itu ada di tepi jalan.Aku membuka pintu mobil dan melangkah kedepan.
“Lia…”panggil seseorang dari belakangku dan reflex aku langsung berbalik.Ada seorang pria dalam balutan jaket kulit warna hitam sedang menatapku.Aku tak dapat menatap wajahnya dengan gelap tapi naluriku memerintahkan untuk segera lari sejauh mungkin,tanpa piker panjang aku langsung lari secepat mungkin kerah depan walaupun sayup-sayup kudengar namaku dipanggil.Aku tahu aku hanya perlu lari secepat mungkin dan sendalku sudah copot entah kemana,aku tak peduli lagi.Satu hal yang pastia aku harus pergi jauh dari pria asing ini.Nafasku memburu dengan cepat dan paru-paruku hendak meledak ketika ada tangan yang menarikku.Pria itu sedang mengatakan sesuatu tapi aku tak mendengarkan apapun,aku hanya mendengarkan detak jantungku sendiri,dia menarikku serta membalikkan tubuhku sehingga kami berhadapan.Sepasang mata kami beradu dan dia kembali mengatakan sesuatu tapi aku tak mendengar apapun,ia menggoyang-goyangkan tubuhku.Aku langsung menggigit tangannya serta mendorongnya dengan keras hingga pegangannya terlepas,ia jatuh.Aku langsung berlari secepat mungkin tanpa sekalipun berbalik kebelakang.Pandangan mataku kabur tapi samar-samar aku melihat sebuah warung kopi yang tak jauh dariku,dengan tenaga yang tersisa aku mendekati warung itu.Samar-samar aku melihat seorang wanita paruh bayah menjerit ketika melihatku.Aku mendengar diriku berkata,”Tolong aku,”.Semua langsung berubah gelap dan aku tidak mengetahui apa yang terjadi selanjutnya.
Matahari pagi menyusup lembut melalui jendela kaca yang lumayan besar ketika aku terbangun.Awalnya aku pikir sudah mati dan sedang ada diruang pengadialan untuk mempertanggaung jawabkan dosa-dosaku karena nuansa putih mendominasi ruangan tersebut.Tiba-tiba aku merasa sangat khawatir dan ketakutan mengingat seluruh dosa-dosaku dan apa yang terjadi sehingga aku akhirnya ada disini.Aku tidak bisa mengingat apapun selain rasa takut yang mencekam seluruh tubuhku dan aku kini benar-benar sulit bernafas sekarang.Bunyi langkah kaki yang mendekat kearahku dan gorden putih terbuka.Aku langsung terbangun ketika sosok putih-putih itu mendekatiku dan ia sedang mengucapkan sesuatu serta tersenyum kearahku tapi aku tidak bisa mendengarkan apapun selain nafasku yang sedang memburu dengan cepat.Dia mengacungkan sebuah benda kearahku tapi hanya menatapnya dengan tatapn curiga.Tapi dia mendekati tempat tidurku dam membuatku bergerak cepat turun dari tempat tidur dan bunyi barang-barang jatuh disekitarku.Potongan-potongan gambar berkelebatan di kepalaku membuatku bingung,takut dan berusaha keluar dari ruangan itu.Sosok putih-putih itu menekan sesuatu didinding dan meneriakkan sesuatu dengan panic.Hanya dalam hitungan detik sudah banyak orang yang memenuhi ruangan kecil itu dan kini aku merapat ke dinding dengan takut.Mereka semua berbicara dan aku merasa pipiku panas tak lama kemudian pipiku basah,aku menangis dalam ketakutan,bingung,kalut dan sendirian karena tak ada seorang pun yang kukenal.
“Lia,…”akhirnya aku mendengar seseorang yang familiar memanggilku.Aku berusaha mencari sumber suara diantara kerumunan orang.Suara itu membautku tenang dan ada sebuah perasaan bahwa aku akan baik-baik saja.
“Lia,ini mbak Rani.Kamu ingatkan kan?,”ada seseorang yang berjongkok didepanku,aku terlalu terkejut sehingga butuh waktu agak lama untuk mengingat mbakku.
“Iya,aku ingat,mbak,”kataku pelan dan langsung dipeluk oleh mbakku kuat-kuat.Setelah aku dia melepaskan peukkannya,tiba-tiba aku merasa nyeri hebat dikepalaku.Aku meraba kepalaku ternyata ada perban yang melilit disana,aku merasa sangat pusing dan semua kembali menjadi gelap lagi.Hanya sayup-sayup kudengar mbakku berteriak memanggil dokter.
Aku kembali terbangun dan hal pertama yang kudengar adalah suara jarum jam yang berputar.Gerakkanku menggeser selimut ternyata membangunkan mbakku.Ia tersenyum sayup dengan wajahnya yang diliputi kantuk.
“Kau,sudah bangun?,”tanyanya dan aku hanya mengangkuk saja.Sambil menguap ia berdiri dan melangkah ke pantry menyeduh kopi hangat untuk 2 orang.Aku memaksakan tubuhku untuk duduk ditempat tidur.
“Apa yang terjadi denganku?,”tanyaku sambil mengambil cangkir kopi darinya.Ada ekspresi bingung di wajahnya.Asap dari cangkir masih mengepul menebarkan wangi kopi yang menggoda.Setelah setekuk tubuhku langsung berkeringat dan terasa sangat segar.Mbak Rani melangkah membuka kaca jendela dan udara pagi langsung menghambur masuk.Ia kembali duduk di kursi dan memandangku dengan penuh Tanya.
“Apa?,”aku tak mengerti kenapa dia malah memandangku seperti itu.
“Dugaan sementara seseorang mencoba memperkosamu,”ia memandang kearah lain seolah ada sesuatu yang mengerikan sehingga ia tidak berani memandang kearahku.Tanganku gementar dan nyaris menumpahkan isi cangkir jika mbakku tidak cepat mengambil cangkir itu dari tanganku.Air mataku membasahi pipiku dan aku kehilangan kata-kata.Yach,aku terlalu terpukul mendengar kalimat itu.Kalimat itu seperti sebilah pisau yang menancap tepat di jantungku.
“Tapi kita akan membuktikannya dengan hasil visum.Aku sudah mengurus admitrasinya,jam 9 kita akan kesana sekarang,kau harus tegar,”katanya setenang mungkin meskipu dari balik kacamatanya aku bisa melihat gelombang kemarahan disana.
Suster mendorong kursi rodaku melalui sebuah koridor panjang yang didominasi warna putih.Sejak tadi,,aku hanya terdiam dan menjawab pertanyaan hanya seperlunya saja.Aku merasa benar-benar menjadi seorang pecundang sejati.Aku boleh memiliki segalahnya tapi bisakah semua yang kumiliki bisa mengembalikan kehormatanku.Ini mungkin terdengar naïf tapi percayalah sebuah keperawanan adalah sesuatu yang penting buatku.Bagiku harga seorang wanita sangat ditentukan oleh keperawanannya dan aku merasa sangat berharga ketika masih memilkinya tapi sekarang aku tidak memilki apapun selain kenyataan bahwa seseorang merampas kehormatanku.
“Lia,dengarkan aku,”suara mbak Rani membuyarkan pikiranku.Aku mendongak menatap matanya yang kini tidak lagi mengenakkan kacamata.
“Ini baru dugaan,saying.Tapi apapun hasil akhirnya kau tetaplah sangat berharga.Jangan takut aku ada disini untuk menunggumu,”ia memeluk dan pintu ruangan itu pun terbuka,suster mendorong kursi rodaku,aku hanya mendengar pintu di belakangku tertutup.
Prosedur ini memakan waktu kurang lebih 20 menit belum terhitung sesi Tanya jawab tentang kehidupan seksualku.Seorang wanita cantik masuk dan menuju meja kerja.Tubuhnya yang tinggi tampak cantik dibalik kemeja hitamnya sedang tersenyum kearah dua perawat yang sedang duduk bersamaku.Kini ia menarik jas putih yang sedang disampirkan disandaran kursinya.Ia menuju kearahku dan prosedur visum pun dimulai.Dengan segala kecanggungan kulakukan semua instruksinya dengan ditemani dua perawat tadi.Sungguh aku benar-benar risih dan aku berjanji tak akan bertemu dengan dokter ini lagi selama sisa hidupku.Hal pertama yang terpikir olehku setelah prosedur visum ini berakhir adalah betapa aku sangat membenci diriku sendiri dan aku benci senyuman dokter ini seolah-olah aku adalah aku seorang wanita murahan yang berpura-pura aku diperkosa dan sedang menuntut pertanggung jawaban dari seorang pria yang menghamiliku.Aku tahu ini memang terdengar gila tapi percayalah senyuman itu secra tidak langsung mengatakan hal ini padaku dan ini membuatku sangat marah karena direndahkan seperti ini.
“Apa yang terjadi?”kali ini dengan senyuman yang sama menyebalkan tak ada tatapan simpati.Entahlah mungkin selama ini semua wanita yang masuk ke ruangan ini memiliki moral rendah sehingga hasil visum disini menjadi alasan agar para pria mau menikahi mereka.
“Aku dalam perjalanan ke curug dan mobilku mogok.Tempat itu sangat sepi dan sudah malam.Aku keluar dari mobil untuk cari bantuan tapi seorang pria menyergap dari belakang.Aku panic dan lari tak jauh dari situ ada sebuah warteg.Aku ingat ada seorang wanita paruh bayah berada disana sebelum aku pingsan.Selanjutnya aku tidak ingat apapun yang kutahu aku terbangun di rumah sakit ini,”ucapku ringkas tanpa ekspresi.
“Bagaimana dengan handphonemu?Apakah kau tidak menghubungi seseorang untuk minta bantuan atau mungkin menjemputmu?,”ia bertanya lagi kali ini dengan tatapan menyelidik.
“Yach,aku mencoba menghubungi  seseorang tapi baterai hpku habis bahkan tidak bisa dihidupkan.Aku duduk dalam mobilku sekitar 20 menit tapi tak ada mobil yang lewat.Akhirnya aku keluar dan kejadian itupun terjadi,”aku tetap memasang ekspresi dingin padanya.Ia menghela nafas dam membetulkan letak kacamatanya.Aku menunggu pertanyaan selanjutnya tapi ia tidak mengatakan apapun hanya menulis sesuatu pada catatan medic atas namaku.
                                             ***
Seminggu setelah aku dirawat di rumah sakit,aku diizinkan pulang ke rumah.Untuk sementara aku tinggal di rumah mbakku karena dia khwatir tidak ada yang mengurusku di Jakarta.Empat hari yang lalu aku dapat telepon dari kantor pusat tentang kesediaanju untuk melanjutkan proyek ini.Aku bilang aku akan sembuh 2 minggu lagi dan aku akan kembali bekerja disana.Aku sudah terlanjur basah dan lebih baik basah saja sekalian.Aku tidak mau bekerja setengah-setengah saja,aku mau ini tuntas tak peduli apapun yang terjadi.Dan aku berhasil meyakinkan bosku dan ia tampak merasa bersalah karena telah memaksaku mengrjakan tugas ini.Aku senang dia merasa seperti itu setidaknya dia tahu betap berharganya aku buat kemajuan karir dan instansi tempat kami bekerja.
“Jadi,kau tetap akan menagani proyek ini?,”mbakku berusaha meyakinkan dirinya bahwa aku telah mengambil sebuah keputusan yang tampaknya kedengaran gila.Aku hanya mengangkuk sambil sibuk mengunya roti bakar buatan mbakku.
“Apakah kau tidak teringat dengan kejadian kemarin?”tanyanya lagi dan aku menatapnya dengan tatapan bosan.Dia sudah lima kali menanyakan pertanyaan itu.Aku jadi bertanya-tanya sendiri apakah kakakku tercinta ini punya masalah dengan ingatannya.
“Iya,aku ingat apa yang terjadi denganku kemarin tapi itu tidak jadi alasan bagiku untuk tidak menangani proyek ini.Aku sudah menyatakan diri untuk menangani proyek ini dan susah payah aku membuat keputusan ini dan percayalah aku tidak akan mundur lagi,”jawabku tegas dan ia hanya menghela nafas tanda menyerah.
Aku sedang membaca buku tentang pasar saham ketika handphoneku bergetar.Nomor baru muncul di layar,aku tidak mengenali nomor ini.Ternyata telepon dari rumah sakit yang menyatakan bahwa hasil visum sudah keluar dan aku bisa mengambil hasilnya sekarang.Aku hanya menyudahi pembicaraan itu dengan gugup.Rasa ingin tahu,ketakutan,ragu,pesimis,optimis dan entah perasaan apalagi yang bercampur dibenakku membentuk perasaan yang sulit kujelaskan dengan kata-kata.
Kini aku sedang duduk di ruanga tunggu untuk masuk menemui dokter.Ruangan ini didominasi dengan warna putih dan bau obat memenuhi udara yang sejuk nyaris membuatku menggigil dan mual.Inilah alasan kenapa aku membenci rumah sakit.Sepuluh menit kemudian namaku dipanggil oleh suster dan dipersilahkan masuk ke ruangan periksa.Ternyata dokter itu sedang keluar sebentar ada pasien yang bermasalah di ruang bersalin.Aku benar-benar tidak ingin ketemu dengan dokter menyebalkan itu,tapi Cuma dialah satu-satunya orang yang memegang hasil visum.Aku memandang ruangan sekelilingku yang hanya dihiasi oleh organ tubuh manusia.Ada gambar ibu hamil yang sedang mengelus perutnya dengan saying sedang tersenyum mesra kepada suaminya yang sedang memeluk isterinya dengan sikap melindungi.Ada gambar tentang perkembangan janin pada setiap periode bahkan ada seorang ibu yang sedang menyusui bayinya.Aku melangkah lebih dekat lagi untuk membaca cirri-ciri ibu yang akan segera melahirkan dan itu membuatku bergidik ngeri.Ada rasa nyeri ringan pada perut si ibu,kemudian akan terasa sakit serta air ketuban akan pecah disertai dengan rasa sakit yang hebat dan darah yang sangat banyak akan keluar seiring dengan bejalannya proses persalianan itu.
“Maaf,menunggu lama,”seseorang mengagetkanku.Aku membalik badan kearah sumber suarah itu.Ternyata ada seorang pria yang sedang melangkah masuk sedang menarik jubah putihnya yang tersandar di sandaran kursi.Oh,dia seorang dokter,kataku dalam hati.
“Silakan duduk.Namamu Cecilia Handayani Putri,nama yang bagus.Panggilannya apa?”tanyanya dengan ramah.
“Lia,”jawabku tenang.
“Hasil visumnya sudah ada…”kalimatnya terhenti karena ia sedang membuka laci mencari sesuatu.Sungguh,itu adalah detik-detik paling mendebarkan dalam hidupku.Kurasakan kedua telapak tanganku basah dan aku merasa pusing.Tapi aku harus kuat menghadapi hasil akhirnya.
“Hasilnya…Sangat menggembirahkan sekali,”katanya sambil tersenyum dan percayalah aku sangat senang.Rasanya aku ingin memeluk dokter itu.
“Lia,apa kau tidak apa-apa?Apa kau tidak senang?,”dokter itu bertanya lagi.Aku bingung kenapa dia bertanya begitu.
“Aku senang,”jawabku singkat.
“Tapi wajahmu seperti orang yang dimasukkan dalam freezer.Dingin,pucat dan menakutkan,”katanya sambil membuat ekspresi menyeramkan.Kami berdua langsung tertawa.
“Nah,begitu dong…Kau tampak cantik kalau seperti ini,”pujiannya membuat kedua pipiku terasa panas dan aku tahu wajahku sudah merah kayak kepiting rebus.Sial,apa yang terjadi denganku?Selama ini aku selalu sangat tenang dan dingin jika berurusan dengan makluk Tuhan yang berjenis kelamin laki-laki.Kenapa semua bisa jadi begini?Aku benar-benar tidak punya cukup alasan untuk menjelaskan fonema ini.
“Maaf,aku membuatmu malu,”katanya kikuk.Tuh,benarkan wajahku tuch benar-benar kayak kepiting rebus sekarang.Dan aku hanya tersenyum dan berusaha menitupi rasa maluku.Sungguh,aku benar-benar sedang mempermalukan diriku sendiri.Dokter ini pasti pikir kalau aku sedang naksir dia tapi dugaan itu tidak salah.Toch,dia masuk dalam criteria cowok yang kusukai.Dia punya kulit putih agak kecoklatan,gigi putih yang rapi bikin senyumnya sangat mempesona,tubuhnya berotot dan tinggi kira-kira 164 cm,hasil fitness yang professional karena otot-ototnya menghiasi tubuhnya dengan sempurna,dia pintar buktinya dia seorang dokter spesialis ginekologi dan tak ada cincin yang melingkar di jari manisnya.Alasan paling mendasar adalah kepribadiannya yang humoris,walaupun masih muda dia sudah spesialis ginekologi.Sungguh dia benar-benar sempurna untukku.
“Ada masalah?,”tanyanya dengan nada khwatir dan itu bikin aku tambah meleleh dech.Aku hanya menggeleng pelan seolah mulutku terkunci padahal banyak hal yang ingin kukatakan padanya.
“Bukan begitu maksudku.Kau menatapku terus,apa ada yang salah dengan penampilanku?”tanyanya agak khawatir.Oh,Tuhan tolong aku untuk menjelaskannya tanpa mempermlukan diriku sendiri.
“Wajahmu sepertinya aku ingat dimana yach…Tapi aku ingat pernah melihat orang sepertimu entah dimana.Makanya aku memperhatikanmu dengan seksama,apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”tanyak spontan.Entahlah,aku merasa ada orang lain yang berbicara melalui diriku pastinya aku sangat kaget dengan pertanyaan super percaya diri yang terlontar dari mulutku.Padahal dia tahu aku menatapnya dengan tatapan yang memuja tapi aku ingin tahu reaksinya.Apakah dia benar-benar pintar seperti yang aku pikirkan atau aku saja yang melebih-lebihkan dia.
“Benarkah?Entahlah,mungkin kita pernah bertemu sebelumnya,”ujarnya terkejut.Sepertinya aku jadi bingung sekarang tapi sudahlah dari pada malu seumur hidup itu pasti lebih tidak enak.Setelah berbicara sana-sini,dengan berat hati aku pamit pulang.Soalnya dokter itu telah mencuri hatiku dengan ketampanannya yang mempesona.
                                                                              ***
Aku sedang siap-siap di kamar ketika kakakku tercinta memanggilku untuk sarapan pagi.Bau roti bakar sudah membuat perutku keroncongan dan membuatku cepat-cepat bergegas menuju ruang makan.
“Ayo,makan,”ajaknya sambil menuangkan susu coklat untukku.Tanganku dengan cekatan menarik kursi dan duduk.Aku langsung makan dengan lahapnya.
“Aku senang kau kembali lagi.Kupikir kecelakaan itu sudah merengut adikku,”katanya dengan tatapan seorang ibu yang sedang mengawasi anaknya makan.Itu tatapan langkah,kakakku nyaris tidak pernah menunjukkan emosinya.Selalu tenang bahkan terlalu tenang untuk ukuran seorang kakak.
“Yach,aku baik-baik saja dan akan selalu begitu,”balasku sambil sibuk mengunyah roti sesekali menekuk susu coklat.
“Jadi,bagaimana hasilnya?”inilah pertanyaan inti dari semua basa-basinya tadi.Aku merogoh saku dan memberikannya sebuah amplop putih.Ia membaca dengan cepat dan air mukanya langsung berubah bahagiah.
“Oh,leganya hatiku.Tak ada masalah sekarang.Tugasku sekarang jauh lebih ringanh.Aku akan minta mereka untuk membebaskan Bram dan proyek akan tetap berjalan.Kita akan bekerja lagi dan rencana ini akan sukses.Bram pasti senang,”selera makanku langsung hilang mendengar kalimat itu.Bram?Siapa dia?Kenapa kakakku lebih bahgiah karena Bram dibandingkan aku?Apakah kesuksesan proyeknya lebih penting dari diriku?Dan ada sejuta pertanyaan lain yang butuh segera dijawab tapi aku sudah terbakar perasaan cemburu menghanguskan semua keinginannku untuk bertanya lebih lanjut lagi tentang Bram.Aku langsung pamit pergi ke Curug.
                                                           ***
Tadi kakakku memaksa untuk mengantar kesana tapi aku menolaknya dengan halus.Entahlah,aku merasa agak kenak-kanakkan dengan sikapku ini tapi mau bagaimana lagi.Aku sedang berhenti di pos penjagaan untuk pemeriksaan identitas diri,aku memandang bangunan-bangunan yang sedang terbentang di hadapanku.Kesan pertamanya adalah semua tampak rapi dalam tatanannya.Kini mobilku menuju parkiran yang tepat berada di depan kantor admitrasi.